AH, IBUKU | Ungkapan Kenangan

BERBAGI

Editor : Wiranda Yudhis Arjuna

MESKI tubuhnya penat sekali, ibu tetap tak peduli.  Ia harus menyiapkan makanan untuk lima anaknya.

Ibuku yang sangat kusayang itu baru pulang dari pasar. Ia berjualan sayur mayur berikut cabai dan buah paria.

Meski tak banyak membawa uang ketika pulang ke rumah, tapi wajah ibu tetap optimis dan bijak sekali.

Ibuku adalah single parrent setelah ditinggal ayah. Ia merantau ke Palembang tanpa seorang saudara pun yang menyertainya.

Jika mendalami kehidupan ibu yang tak pernah mengecap kesenangan sejak kecil itu, aku menangis sendiri. Bahkan setelah menikah dengan ayah,  ia justru hidup susah, apalagi setelah ditinggal ayah.

“Allah itu sangat bijak. Meski kita ini dicoba dengan berbagai persoalan hidup, tentu masih sesuai dengan kemampuan kita. Insya Allah nanti akan berbuah kenikmatan,” ujar Ibu di suatu hari ketika istirahat. Ia menyeka peluh yang bercucuran di keningnya.

Dalam hatiku berkata, itulah hebatnya ibu. Ia tak pernah mengeluh meski nasib yang dijalaninya sangat pahit dan susah.

Kulihat wajah ibu yang terlihat lelah, ia tetap memasak meski harus menghidupkan api dengan cara meniupnya lewat cerobong bambu kecil di dapur tradisional.

Sejam setelah itu ia menghimpun anak-anaknya untuk makan bersama. Meski lauknya hanya tempe dan tahu goreng, serta sayur kangkung yang sudah layu. Hanya itu kemampuan ibu untuk diberikan kepada anak-anaknya.

Sebab, ia hanya bisa memberi sekali makan sehari. Pada siang hari saya dan adik-adik harus mengikat perut yang kerocongan. Ah, betapa pahitnya hidup ini.

Sebelum kami santap malam, tiba-tiba datang anak tetangga yang juga orangtuanya tidak mampu. Ibuku tersenyum. Lalu ia mengambil piring untuk anak itu.

Nasi yang sudah dibagi untukku dan adik-adik  itu ia kurangi sedikit-sedikit untuk anak itu. Lalu kami makan nasi pada mal.hari dengan senyum sejuk ibuku.

Ternyata, ibu yang mengajakku untuk selalu berbuat baik itu menjelaskan, “Jika kau menolong orang dalam keadaan sedang berada, itu gampang sekali. Tapi apakah kau mampu menolong orang disaat kau sendiri sedang tidak memiliki uang?”.

Ah, ibuku memang bijak. Meski kesulitan tapi tetap yakin dan tersenyum ketika menghadapi berbagai masalah.

Nasi yang sudah dicatu di masing-masing piring kami, dikuranginya sedikit hanya sekadar membantu anak tetangga untuk diajak makan secara bersama. Ah, ibuku yang baik

Tirta Bening, Januari 2019

Karya : Anto Narasoma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here