Ketika Teknologi, Harta, dan Popularitas Menguji Keteguhan Tauhid

BERBAGI
Oleh Dr. K.H. Supadmi Kohar, M.M. – Ketua Umum MUI Sumatera Selatan

Perkembangan zaman telah membawa manusia memasuki kehidupan yang serba cepat, terbuka dan terhubung. Teknologi digital memberikan berbagai kemudahan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, komunikasi tidak lagi mengenal batas wilayah, dan berbagai kebutuhan manusia dapat dipenuhi melalui perangkat yang berada dalam genggaman.

Namun, di balik kemajuan tersebut terdapat tantangan yang tidak kalah besar, yaitu bagaimana manusia tetap menjaga iman dan spiritualitasnya. Kemajuan peradaban tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman iman. Manusia dapat semakin maju secara ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi pada saat yang sama dapat mengalami kekosongan batin, kehilangan arah dan semakin jauh dari tujuan penciptaannya.

Dalam perspektif Islam, inti spiritualitas adalah tauhid. Tauhid bukan sekadar mengucapkan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tauhid harus menjadi keyakinan yang hidup dalam hati, kemudian tercermin dalam cara berpikir, bersikap dan menjalani seluruh kehidupan.

Seorang Muslim yang bertauhid menyadari bahwa Allah adalah satu-satunya Zat yang wajib disembah, tempat bergantung, sumber pertolongan dan tujuan akhir kehidupan. Kesadaran tersebut menjadi fondasi agar manusia tidak mudah diperbudak oleh sesuatu selain Allah.

Allah SWT berfirman:

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama…”QS. Al-Bayyinah (98):5.

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan seorang Muslim harus dibangun di atas keikhlasan. Dalam konteks kehidupan modern, menjaga tauhid berarti juga mewaspadai munculnya bentuk-bentuk “tuhan baru” yang tidak selalu hadir dalam bentuk benda atau patung, tetapi dapat menguasai hati, pikiran dan orientasi hidup manusia.

Salah satunya adalah materialisme. Harta merupakan bagian penting dalam kehidupan. Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Islam justru mendorong umat untuk bekerja, berusaha, mencari rezeki yang halal dan membangun kehidupan yang baik.

Tetapi harta harus tetap ditempatkan sebagai sarana, bukan sebagai tujuan tertinggi. Ketika kekayaan menjadi ukuran utama keberhasilan, ketika manusia merasa dirinya berharga hanya karena memiliki banyak harta, maka orientasi hidup dapat bergeser.

Allah SWT mengingatkan:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”QS. At-Takatsur (102):1-2.

Peringatan ini sangat relevan dengan kehidupan modern. Persaingan ekonomi dan gaya hidup dapat membuat manusia terus mengejar sesuatu tanpa pernah merasa cukup. Rumah semakin besar, kendaraan semakin mewah, tetapi hati belum tentu semakin tenang. Penghasilan meningkat, tetapi rasa syukur justru dapat berkurang.

Tantangan lain adalah popularitas. Di era media sosial, keinginan untuk dikenal, dipuji dan mendapatkan pengakuan manusia semakin kuat. Jumlah pengikut, tanda suka, komentar dan perhatian publik terkadang dijadikan ukuran keberhasilan seseorang.

Padahal seorang Muslim harus berhati-hati agar amal kebaikan tidak bergeser dari mencari ridha Allah menjadi mencari pujian manusia. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa nilai amal sangat berkaitan dengan niat. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menegaskan bahwa amal perbuatan bergantung pada niatnya.

Karena itu, kita perlu terus melakukan muhasabah: apakah kita bekerja karena Allah, atau semata-mata karena pujian? Apakah kita bersedekah karena ingin mendapatkan ridha Allah, atau karena ingin dikenal dermawan? Apakah kita berdakwah untuk menyampaikan kebenaran, atau karena ingin mendapatkan popularitas?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar kehidupan modern tidak menggeser kemurnian tauhid.

Tantangan berikutnya adalah ketergantungan kepada teknologi. Teknologi merupakan hasil ilmu pengetahuan yang dapat memberikan manfaat besar. Teknologi dapat digunakan untuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, komunikasi dan dakwah. Dengan teknologi, pesan-pesan kebaikan bahkan dapat menjangkau masyarakat yang sangat luas.

Tetapi teknologi tetaplah alat. Ia tidak boleh menjadi pengganti ketergantungan manusia kepada Allah. Jangan sampai manusia begitu percaya kepada teknologi sehingga lupa berdoa. Jangan sampai kecanggihan informasi membuat manusia merasa tidak lagi membutuhkan petunjuk Allah.

Allah SWT berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” QS. Ar-Ra’d (13):28.

Ketenangan sejati tidak semata-mata lahir dari kekayaan, popularitas, kecanggihan teknologi ataupun kenyamanan duniawi. Ketenangan yang hakiki lahir dari hati yang memiliki hubungan kuat dengan Allah SWT.

Karena itu, menjadi Muslim di era modern bukan berarti harus menjauhi dunia. Islam mengajarkan keseimbangan. Kita harus bekerja, belajar, berusaha dan memanfaatkan teknologi. Tetapi semua itu harus berada dalam bingkai iman dan tauhid.

Harta boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai menguasai hati. Teknologi boleh berada dalam genggaman, tetapi jangan sampai mengendalikan kehidupan. Popularitas boleh datang, tetapi jangan sampai menjadi tujuan utama.

Tauhid memberikan kompas kehidupan. Ia mengajarkan manusia bahwa dunia bukan tujuan akhir. Dunia adalah tempat menjalankan amanah dan mempersiapkan kehidupan akhirat.

Allah SWT berfirman:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” QS. Al-Qashash (28):77.

Ayat ini menunjukkan keseimbangan yang sangat indah. Islam tidak mengajarkan manusia meninggalkan dunia, tetapi juga tidak membiarkan dunia menguasai hati manusia.

Karena itu, keluarga, lembaga pendidikan, masjid dan seluruh komponen masyarakat memiliki tanggung jawab besar dalam memperkuat iman dan spiritualitas generasi muda. Anak-anak kita perlu diajarkan bukan hanya bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana mengendalikan diri ketika menggunakannya.

Mereka harus memiliki kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara popularitas dan kemuliaan, antara kecanggihan teknologi dan kebijaksanaan, serta antara keberhasilan duniawi dan keberhasilan hakiki.

Pada akhirnya, kemajuan manusia tidak hanya diukur dari seberapa tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasainya. Kemajuan juga harus terlihat dari akhlak, ketakwaan dan kemampuannya menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Inilah esensi iman dan spiritualitas dalam kehidupan modern. Tauhid harus menjadi fondasi, iman menjadi kekuatan, ilmu menjadi penerang dan teknologi menjadi sarana untuk menghadirkan kemaslahatan.

Manusia boleh memiliki banyak hal di dunia, tetapi jangan sampai hatinya dimiliki oleh dunia. Sebab seorang Mukmin yang memahami hakikat tauhid akan menyadari bahwa segala sesuatu yang dimiliki hanyalah titipan. Yang kekal hanyalah Allah SWT.

Maka, di tengah derasnya perubahan zaman, marilah kita kembali memperkuat tauhid, membersihkan niat, memperbanyak zikir, mendekatkan diri kepada Al-Qur’an dan menjadikan Allah sebagai pusat orientasi kehidupan. Dengan demikian, kemajuan zaman tidak akan menghilangkan spiritualitas, tetapi justru menjadi jalan untuk semakin mengenal kebesaran Allah SWT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here